[Review] Film AMBU Semesta Pertama Dan Terakhirku






Tradisi umat islam ketika menjelang bulan pussa Ramadhan akan berbondong-bondong pulang kampung untuk sowan  ke rumah  orang tua untuk meminta maaf dan silahturahmi. Selain itu juga ziarah ke makam orang tua dan leluhur yang telah meninggal pun  juga sudah menjadi tradisi  yang sampai sekarang melekat di masyarakat Indonesia. 

Hasrat untuk berjumpa dengan orang tua semakin membuncah ketika kita yang tidak tinggal satu kota dengan orang tua.
Terutama dengan Ibu atau AMBU  yang  dalam Bahasa Sunda artinya panggilan untuk ibu dengen Bahasa yang halus dan santun.

Pas banget ya, nonton film AMBU yang berlatar belakang suku Baduy, Jawa Barat. 
Aku kira film ini bakalan biasa saja, plot dan ceritanya. Ternyata aku salah perasaan. Polemik di pertengahan sampai ahir bulir air mata mengalir under control.

Film AMBU menceritakan tentang  AMBU Misnah ( Widyawati) yang ditinggalkan oleh anak perempuan satu-satunya, Fatma ( Laudya Chintya Bella) yang pergi dari Baduy demi memilih menikah dengan pemuda di Jakarta sampai belasan tahun lamanya tidak pernah pulang ke rumah AMBU dan mempunyai seorang anak perempuan bernama Nona (Lutesha). Hingga suatu hari Fatma dan Nona bergegas meninggalkan Jakarta untuk kembali  pulang ke rumah AMBU, Baduy,  semesta pertamanya, AMBU.

Ide cerita dari ibu Titien Wattimena ini superti penonton tidak di kasih rehat sebentar untuk menitik-kan air mata. Gambaran  ketegaran seorang ibu terhadap anaknya dan konflik batin dalam menghadapi masalah yang terjadi antar generasi diangkat sangat jelas dengan latar belakang kebudayaan Baduy. 






Nona sedang beradu mulut dengan Neneknya


"Se-tidak pedulinya seorang anak terhadap ibunya, Dia akan mati-matian membela ibunya di hadapan sang nenek. "

"AMBU adalah  tentang kegetiran sekaligus  keindahan cinta kasih. Bagaimanapun ibu  tak hanya berhenti jadi semesta pertama. Dia terus ada dan siap menjadi  semesta terakhir kita. “Papar Titien Wattimena.

"Badui memang kami pilih karena kecantikan dan kesederhanaannya, seperti yang tercitra dalam ketiga karakter dalam film AMBU,Misna, Fatma, dan Nona. Kami berharap bahwa film AMBU dapat diterima oleh masyarakat luas, terutama para wanita Indonesia sebagai fokus dari karakter di film AMBU ini. "ujar Farid Dermawan sebagai sutradara sekaligus Produser film AMBU

Apalagi Didukung dengan artis-artis yang perah menyabet piala citra seperti Widyawati, Laudya Chyntia Bella, didukung pemain berbakat Lutesha, Endita, Baim Wong.

Sosok ceria dan penyeimbang itu, Misna (Endita) Selfie dulu la ya :)

Salah fokus ketika melihat sosok wanita Baduy memakai perhiasan mentereng, lipstik yang memukau, sahabat Fatma yaitu Misna (Endita).Pribadi yang ceria, dan diangkat sebagai anak oleh AMBU (Widyawati). 
Tante Widyawati juga mengisi soundtrack fim AMBU, semesta pertama dan terakhirku. Menurut aku, bikin meleleh mendengarkan alunan suara tante Widyawati.




Press Screening Film AMBU


Selama alur cerita, penonoton dimanjakan dengan suasanya alam Baduy yang mempesona. Bila malam tiba tidak ada lampu. Dan penduduk kampung Baduy tidak diperbolehkan menggunakan ponsel, percuma saja tidak ada sinyal juga disitu. 

Suka sinematografi selama film AMBU, terutama latar belakang di jembatan dan scene melihat kunang-kunang di malam hari. 





Fatma minta ijin Ambu  untuk tinggal sementara di Baduy

Ketika dokter memfonis kanker payudara, membuat Fatma bergegas untuk pulang ke Baduy menemui AMBU.  Bagaimana kisah Fatma setelah sekian lama tidak pernah pulang kampung ke rumah AMBU, tiba-tiba datang membawa anak semata wayang, Nona ke kampung Baduy. 


Budaya suku Baduy bila sudah lama keluar dari kampung Baduy dan ingin kembali tinggal di Baduy, harus di hukum selama 40 hari dengen upacara adat dan seijin keluarga yang bersangkutan.


Akankah diterima kembali oleh AMBU
Bagaimanakah Fatma meyelesaikan permasalahannya dengan AMBU, dan anak kesayangannya Nona. Selama ini Nona tidak pernah akur dengen Fatma. 


Saksikan kelanjutan kisahnya AMBU di bioskop kesayangan teman-teman sekalian tanggal 16 Mei 2019. 

Jangan lupa bawa tissue ya, siapkan hatimu dan selamat menonton.

14 comments:

  1. Belum muncul di bioskop sini, satu hal yg menarik tentang tradisinya yg hrs dihukum dlu selama 40hr, terus kira2 perjalanannya gimana ya :3

    ReplyDelete
  2. Hmmmm, menarik juga nih filmnya. Tapi aku selalu lemah kalo nonton film soal keluarga, apalagi soal ibu.

    ReplyDelete
  3. Menarik banget mbak, selain tengtang keluarga, juga mengangkat tetang kebudayaan salah satu suku di indonesia, Baduy.

    ReplyDelete
  4. Lagi demam avengers nih mbak hehehe... tapi dari judulnya sih udah kebayang ceritanya seperti apa. pasti anyak menguras air mata nih hehehe. Klo aku yang nonton pasti jadi kepengen pulang kampung buat ketemu mama

    ReplyDelete
  5. Aku selalu suka dengan novel atau film yang berlatar budaya daerah, suka ada nilai tersembunyi yang berada di baliknya, pengen nonton deh film Ambu, duh penasaran

    ReplyDelete
  6. Aku pas kapan hari baca berita tentang penggarapan film ini. Suku Baduy tuh emang unik. Jadi penasaran sama filmnya

    ReplyDelete
  7. Film yang menceritakan kisah nyata ini kayanya bagus juga nih untuk ditonton ya mas pada waktu itu dan alur ceritanya pum sedih gitu kan

    ReplyDelete
  8. Kalau aku nonton fiom ini sepertinya bakal berlinangan air mata di sepanjang scene. Mudah tersentuh anaknya. Apalagi tema orangtua begini. Aku penasaran dg setting tempat dlm fiom ini. Apakah di daerah Baduy asli, karena aku kepo dr dulu sama suku ini.

    ReplyDelete
  9. Ah aku jadi kangen Badui, pernah merasakan menginap di kampung sana gelap2, trus ayam2 itu berkokok jam 1-2 dini hari kami kira dah subuh haha :D
    Wah filmnya kyknya sarat makna ya mbak. Itu penasaran knp belasan tahun anaknya gak pulang gtu ya...

    ReplyDelete
  10. Pastinya ga akan sanggup nahan air mata deh pas nonton ini, tapi jadi tahu juga sih adat dan budaya baduy. Ide cerita film ini keren juga ya :D

    ReplyDelete
  11. Hebat niih...bisa shooting di wilayah suku Baduy.
    Aku denger, gak semua orang diperbolehkan masuk ke wilayah suku Baduy.
    Kagum yaa..
    Jaman sudah 4G hampir 5G, tapi masih ada wilayah yang melestarikan budaya sedemikian kentalnya agar tak tersentuh dunia luar.

    Pasti film nya mengandung banyak makna mendalam.

    ReplyDelete
  12. selain ngangkat cerita keluarga film ini ngangkat budaya Baduy juga ya mbak, keren deh aku jadi penasaran mau nonton juga

    ReplyDelete
  13. Jadi, perlu nunggu tanggal 16 Mei besok untuk bisa menonton film ambu ini yah mbak
    Keknya kalau nonton ini film, kudu siap2in tisuue nih aku hehee
    Maacih yah mbak sharingnya ^_^

    ReplyDelete
  14. Jadi sedih baca ini...Ramadan dan lebaran tahun ini..adalah tahun pertama tanpa ibu...


    Bersyukur yg masih memiliki ibu...

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon maaf, komentar SPAM dan mengandung link hidup, akan segera dihapus.